Pages

Sunday, 14 August 2016

'Lari'



Cerpen oleh Eileen Agneshia

Ia berlari. Kakinya terus berlari, menolak untuk berhenti. Seolah-olah ada seseorang yang berbisik menyuruhnya, badannya untuk terus berlari, menghindar dari bahaya yang mengejarnya. Bahaya yang berupa makhluk yang sudah mengejarnya sejak tadi. Dirinya tidak tahu mengapa, tetapi ketika Ia bahkan belum melihat jelas wujud makhluk yang berupa bayangan hitam besar itu, hanya ada satu yang ada di pikirannya, yaitu lari.

        Kegelapan dan kabut menyelimutinya, membuat pandangannya semakin kabur, dan wujud makhluk yang mengejarnya semakin tidak jelas. Sunyi mengelilinginya, hanya suara hembusan nafas miliknya dan geraman makhluk itu yang dapat terdengar. Dan rasa gugup serta takut, memeluknya. Membuat hatinya semakin berdebar kencang.
    

     Samar-samar, Ia dapat melihat pepohonan dan cahaya terang bersebelahan di depannya, memaksa batinnya untuk memilih diantara kedua ujung tersebut. Ia harus memilih dengan tepat, berlari ke arah cahaya terang dengan kemungkinan melihat wujud asli dari makhluk yang mengejarnya dan tertangkap, atau mengumpat diantara pepohonan dan mengistirahatkan kakinya yang sudah mulai lelah dan jantungnya yang berdegup kencang.
               
    Berpendapat bahwa resiko yang Ia tanggung akan lebih kecil, Ia memutuskan untuk berlari ke arah pepohonan, dan mengumpat di antara semak-semak, berharap mahkluk yang mengejarnya itu tidak dapat menemukannya.Perlahan, suara geraman makhluk yang mengejarnya itu semakin tidak terdengar, membuat hatinya lega. Kemudian Ia meluruskan kakinya dan mencoba untuk mengatur nafasnya yang tidak karuan, membiarkan tubuhnya itu beristirahat setelah berlari –entah berapa lama.
                
      Namun waktu istirahatnya itu terpotong dengan singkat. Suara geraman makhluk itu kembali terdengar, membuat hatinya kembali berdegup kencang, dan keringat dingin kembali bercucuran di badannya. Ia bangkit berdiri, berusaha melihat keadaan di sekitarnya dari balik pepohonan yang mengelilinginya. Namun, matanya tidak dapat menemukan sedikit pun penampakan makhluk itu. Mungkin karena saking sedikitnya cahaya yang masuk diantara pepohonan itu sehingga bayangan susah terlihat. Tidak mau mengambil banyak resiko, Ia kemudian kembali berlari, menjauhi tempat peristirahatannya.
       
   Tanpa arah dan tujuan, Ia berlari. Ia terus berlari hingga nafasnya pelan-pelan habis dan badannya semakin letih. Pandangannya pun semakin kacau, Ia mulai melihat hal-hal aneh di depannya. Salah satunya adalah rumah kecil yang terbuat dari kayu yang berada di depannya. Rumah itu bersebelahan dengan cahaya terang –juga. Walaupun tidak yakin yang Ia lihat adalah sesuatu yang nyata, kali ini Ia tidak berpikir panjang untuk membuat keputusan. Ia langsung berlari ke arah rumah itu, tidak sabar untuk beristirahat.

      Sesampainya di rumah itu, Ia cepat-cepat menutup pintunya dari dalam, lagi-lagi berharap makhluk itu tidak dapat menemukannya. Rumah itu kosong, dan entah bagaimana kekosongan itu memberi kesan ngeri padanya. Terdapat satu lagi pintu yang bersebrangan dari pintu yang Ia masuki. ‘Aneh’ pikirnya, namun Ia memutuskan untuk tidak menghiraukannya.

Ia kemudian duduk bersandar pada dinding kayu rumah itu dan memejamkan matanya, berusaha menenangkan hati dan badannya yang gemetaran. Tetapi lagi-lagi waktu istirahatnya tidak berlangsung lama. Tiba-tiba Ia mendengar dan merasakan  sebuah guncangan hebat dari pintu yang Ia masuki. Geraman makhluk itu pun dapat terdengar sangat jelas. Ia tidak perlu melihat atau memastikan apa yang sedang terjadi, yang Ia tahu pasti adalah dirinya dalam bahaya. Lalu Ia melirik pintu yang lainnya, berpikir bahwa mungkin Ia bisa kabur melalui pintu itu. 

                Badannya pun langsung bangkit berdiri, bersiap untuk berlari lagi. Tanpa mengulur-ulur waktu, Ia langsung berlari keluar dari rumah itu, dan sekali lagi Ia berlari tanpa arah dan tujuan, dan dengan kegelapan dan kabut mengelilinginya. Sampai kapan Ia harus berlari? Apakah makhluk itu akan berhenti mengejarnya? Ia tidak tahu. Yang pasti Ia harus terus berlari.

   Cahaya terang yang mulai familiar itu pun kembali terlihat, kali ini di sebelahnya adalah sebuah bangunan kecil dengan papan bertuliskan polisi diatasnya. Tiba-tiba hatinya merasa lega,seolah-olah semua bebannya terangkat dan Ia dapat benar-benar beristirahat. Ia pun tidak segan-segan berlari ke arah pos polisi tersebut, bermaksud untuk meminta pertolongan, dan meninggalkan cahaya terang itu –lagi.
                 
    Hanya ada satu orang di dalam pos itu, dengan keadaan sedang tertidur dengan wajah di atas meja kerjanya.Ia tidak dapat melihat jelas wajah orang yang sepertinya penjaga pos itu, dan Ia juga tidak berniat mengganggu penjaga yang sepertinya sedang beristirahat itu. Namun Ia membutuhkan pertolongan. Ia pun mengguncang-guncang pundak penjaga yang tertidur pulas itu, bermaksud untuk membangunkannya. Tetapi apa yang Ia lihat berikutnya membuat dirinya kaget seolah-olah Ia dapat merasakan jantungnya tiba-tiba melompat. Wajah penjaga itu kosong, seperti pada film-film horror yang biasa Ia tonton. Kakinya pun melemas, seperti jelly dan Ia tidak punya tenaga lagi untuk bangkit berdiri.

                Geraman makhluk yang mengejarnya pun kembali terdengar jelas. Sangat jelas, seperti makhluk itu sudah berada di belakangnya. Lalu Ia merasakan sebuah tangan menggapai pundaknya. Tangan itu menggenggam pundaknya dengan sangat erat dan kasar. Ia pun menolehkan kepalanya, seperti sudah menjadi insting baginya. Lalu seketika, sekelilingnya menjadi gelap. Dan tanpa Ia sadari, nafasnya memelan, dan badannya terkapar seolah-olah tidak bertenaga.
-
Ia membuka matanya, terbangun dari tidurnya yang pulas. Dengan reflek, Ia mengusap-usap wajahnya dan mendapati keringat dingin membasahi keningnya. Kerongkongannya pun terasa sangat kering seperti padang pasir yang sudah lama sekali tidak berjumpa dengan air. Hatinya berdebar-debar, dan tangannya gemetaran. Ia pun teringat pada mimpi anehnya itu. Apakah yang akan terjadi jika dari awal dia memilih untuk berlari ke arah cahaya yang terang itu? Ia bertanya-tanya, namun memutuskan untuk tidak menghiraukannya.

                Beranjak dari tempat tidurnya, Ia kemudian mengecek jam dindingnya yang menunjukkan pukul 04.00 subuh. Tidak biasanya Ia terbangun pada waktu sesubuh itu, dan Ia berpikir untuk memanfaatkan waktunya tersebut. Ia pun memutuskan untuk keluar dari rumahnya dan berlari pagi.
Setelah mengganti pakaian dan meminum beberapa gelas air, Ia menginjakkan kakinya keluar rumah. Kabut dan remang-remang lampu menyelimuti jalan, membuat Ia berpikir dua kali untuk melanjutkan rencananya. Namun sperti biasanya –Ia mengikuti kata kepala batunya, dan memulai kegiatan lari paginya.
Dan entah bagaimana, Ia dapat merasakan seperti ada yang sedang mengikutinya.

-SELESAI-

No comments:

Post a Comment