Cerpen oleh Eileen Agneshia
Ia berlari.
Kakinya terus berlari, menolak untuk berhenti. Seolah-olah ada seseorang yang
berbisik menyuruhnya, badannya untuk terus berlari, menghindar dari bahaya yang
mengejarnya. Bahaya yang berupa makhluk yang sudah mengejarnya sejak tadi.
Dirinya tidak tahu mengapa, tetapi ketika Ia bahkan belum melihat jelas wujud
makhluk yang berupa bayangan hitam besar itu, hanya ada satu yang ada di
pikirannya, yaitu lari.
Kegelapan dan kabut
menyelimutinya, membuat pandangannya semakin kabur, dan wujud makhluk yang
mengejarnya semakin tidak jelas. Sunyi mengelilinginya, hanya suara hembusan
nafas miliknya dan geraman makhluk itu yang dapat terdengar. Dan rasa gugup
serta takut, memeluknya. Membuat hatinya semakin berdebar kencang.
Samar-samar, Ia dapat melihat pepohonan dan cahaya terang bersebelahan di depannya, memaksa batinnya untuk memilih diantara kedua ujung tersebut. Ia harus memilih dengan tepat, berlari ke arah cahaya terang dengan kemungkinan melihat wujud asli dari makhluk yang mengejarnya dan tertangkap, atau mengumpat diantara pepohonan dan mengistirahatkan kakinya yang sudah mulai lelah dan jantungnya yang berdegup kencang.
Berpendapat bahwa resiko yang Ia
tanggung akan lebih kecil, Ia memutuskan untuk berlari ke arah pepohonan, dan
mengumpat di antara semak-semak, berharap mahkluk yang mengejarnya itu tidak
dapat menemukannya.Perlahan, suara geraman makhluk yang mengejarnya itu semakin
tidak terdengar, membuat hatinya lega. Kemudian Ia meluruskan kakinya dan
mencoba untuk mengatur nafasnya yang tidak karuan, membiarkan tubuhnya itu
beristirahat setelah berlari –entah berapa lama.
Namun waktu istirahatnya itu
terpotong dengan singkat. Suara geraman makhluk itu kembali terdengar, membuat
hatinya kembali berdegup kencang, dan keringat dingin kembali bercucuran di
badannya. Ia bangkit berdiri, berusaha melihat keadaan di sekitarnya dari balik
pepohonan yang mengelilinginya. Namun, matanya tidak dapat menemukan sedikit
pun penampakan makhluk itu. Mungkin karena saking sedikitnya cahaya yang masuk
diantara pepohonan itu sehingga bayangan susah terlihat. Tidak mau mengambil
banyak resiko, Ia kemudian kembali berlari, menjauhi tempat peristirahatannya.
Tanpa
arah dan tujuan, Ia berlari. Ia terus berlari hingga nafasnya pelan-pelan habis
dan badannya semakin letih. Pandangannya pun semakin kacau, Ia mulai melihat
hal-hal aneh di depannya. Salah satunya adalah rumah kecil yang terbuat dari
kayu yang berada di depannya. Rumah itu bersebelahan dengan cahaya terang
–juga. Walaupun tidak yakin yang Ia lihat adalah sesuatu yang nyata, kali ini
Ia tidak berpikir panjang untuk membuat keputusan. Ia langsung berlari ke arah
rumah itu, tidak sabar untuk beristirahat.
Sesampainya di rumah itu, Ia
cepat-cepat menutup pintunya dari dalam, lagi-lagi berharap makhluk itu tidak
dapat menemukannya. Rumah itu kosong, dan entah bagaimana kekosongan itu
memberi kesan ngeri padanya. Terdapat satu lagi pintu yang bersebrangan dari
pintu yang Ia masuki. ‘Aneh’ pikirnya, namun Ia memutuskan untuk tidak
menghiraukannya.
Ia kemudian duduk
bersandar pada dinding kayu rumah itu dan memejamkan matanya, berusaha
menenangkan hati dan badannya yang gemetaran. Tetapi lagi-lagi waktu
istirahatnya tidak berlangsung lama. Tiba-tiba Ia mendengar dan merasakan sebuah guncangan hebat dari pintu yang Ia
masuki. Geraman makhluk itu pun dapat terdengar sangat jelas. Ia tidak perlu
melihat atau memastikan apa yang sedang terjadi, yang Ia tahu pasti adalah
dirinya dalam bahaya. Lalu Ia melirik pintu yang lainnya, berpikir bahwa
mungkin Ia bisa kabur melalui pintu itu.
Badannya pun langsung bangkit
berdiri, bersiap untuk berlari lagi. Tanpa mengulur-ulur waktu, Ia langsung
berlari keluar dari rumah itu, dan sekali lagi Ia berlari tanpa arah dan
tujuan, dan dengan kegelapan dan kabut mengelilinginya. Sampai kapan Ia harus
berlari? Apakah makhluk itu akan berhenti mengejarnya? Ia tidak tahu. Yang
pasti Ia harus terus berlari.
Cahaya terang yang mulai familiar itu pun kembali
terlihat, kali ini di sebelahnya adalah sebuah bangunan kecil dengan papan
bertuliskan polisi diatasnya. Tiba-tiba hatinya merasa lega,seolah-olah semua
bebannya terangkat dan Ia dapat benar-benar beristirahat. Ia pun tidak
segan-segan berlari ke arah pos polisi tersebut, bermaksud untuk meminta
pertolongan, dan meninggalkan cahaya terang itu –lagi.
Hanya ada satu orang di dalam
pos itu, dengan keadaan sedang tertidur dengan wajah di atas meja kerjanya.Ia tidak
dapat melihat jelas wajah orang yang sepertinya penjaga pos itu, dan Ia juga
tidak berniat mengganggu penjaga yang sepertinya sedang beristirahat itu. Namun
Ia membutuhkan pertolongan. Ia pun mengguncang-guncang pundak penjaga yang
tertidur pulas itu, bermaksud untuk membangunkannya. Tetapi apa yang Ia lihat
berikutnya membuat dirinya kaget seolah-olah Ia dapat merasakan jantungnya
tiba-tiba melompat. Wajah penjaga itu kosong, seperti pada film-film horror
yang biasa Ia tonton. Kakinya pun melemas, seperti jelly dan Ia tidak punya
tenaga lagi untuk bangkit berdiri.
Geraman makhluk yang mengejarnya
pun kembali terdengar jelas. Sangat jelas, seperti makhluk itu sudah berada di
belakangnya. Lalu Ia merasakan sebuah tangan menggapai pundaknya. Tangan itu menggenggam
pundaknya dengan sangat erat dan kasar. Ia pun menolehkan kepalanya, seperti
sudah menjadi insting baginya. Lalu seketika, sekelilingnya menjadi gelap. Dan
tanpa Ia sadari, nafasnya memelan, dan badannya terkapar seolah-olah tidak
bertenaga.
-
Ia membuka
matanya, terbangun dari tidurnya yang pulas. Dengan reflek, Ia mengusap-usap
wajahnya dan mendapati keringat dingin membasahi keningnya. Kerongkongannya pun
terasa sangat kering seperti padang pasir yang sudah lama sekali tidak berjumpa
dengan air. Hatinya berdebar-debar, dan tangannya gemetaran. Ia pun teringat
pada mimpi anehnya itu. Apakah yang akan terjadi jika dari awal dia memilih
untuk berlari ke arah cahaya yang terang itu? Ia bertanya-tanya, namun
memutuskan untuk tidak menghiraukannya.
Beranjak
dari tempat tidurnya, Ia kemudian mengecek jam dindingnya yang menunjukkan
pukul 04.00 subuh. Tidak biasanya Ia terbangun pada waktu sesubuh itu, dan Ia berpikir
untuk memanfaatkan waktunya tersebut. Ia pun memutuskan untuk keluar dari
rumahnya dan berlari pagi.
Setelah mengganti
pakaian dan meminum beberapa gelas air, Ia menginjakkan kakinya keluar rumah.
Kabut dan remang-remang lampu menyelimuti jalan, membuat Ia berpikir dua kali
untuk melanjutkan rencananya. Namun sperti biasanya –Ia mengikuti kata kepala
batunya, dan memulai kegiatan lari paginya.
-SELESAI-
No comments:
Post a Comment